Tampilkan postingan dengan label cerita seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita seks. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Cerita Seks | Memacu Birahi di Dalam Bus Umum




Memacu Birahi di Dalam Bus Umum 


Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku untuk bertemu dengan keluarga.

Hidupku sungguh sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku mendapatkan kerja yang cukup nyaman di sebuah perusahaan telekomunikasi cukup besar daerah Jakarta Selatan. Tinggal jalan kaki ke Pondok Indah Mall. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Perjalanan cinta kami bisa dibilang cukup mulus. Benar-benar sebuah hidup yang sempurna. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan sangat teratur. Sepanjang sejarah kehidupanku, bisa dihitung berapa kali aku melanggar aturan atau norma. Kenakalanku paling besar hanyalah minum tomi (topi miring in case you’re wondering) dan sedikit magadon, waktu acara naik gunung di SMA. Tapi itu dulu.

Hampa kadang terasa. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Kadang aku ingin, sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sekali dalam seumur hidup.

Aku beranjak di tengah kerumunan calo-calo untuk mencari busku. Sumber Alam. Langgananku selama 2 tahun terakhir.

“Mbak, Sumber Alam yang Bisnis belum datang ya?” tanyaku kepada seorang petugas loket. Manis juga. Item manis sih tepatnya.
“Dereng mas, jogja ya? Mangke setengah jam malih …,” Lho, kok bahasa jawa?
“Nuwun nggih mbak.”

Aku duduk menunggu. Asap bus benar-benar menyesakkan. Aku merasakan diriku sesak napas. dari dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan kesesakan Jakarta. Tapi kepepet sih, harus cari upa (“cari nasi”) di Jakarta.

Tak lama kemudian bis itu datang juga. AB 7766 BK. Aku bergegas naik. 14A. dua tempat duduk. Aku sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Biar bisa tidur lelap. Aku segera menutup mata. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.

“Mas, mas, maaf …,” ada suara merdu rupanya. Aku membuka mataku.
“Maaf, apa boleh tukeran sama suami saya? Suami saya dapat tiket tempat duduk di seberang. Soalnya beli tiketnya baru aja tadi.”

Aku melihat ibu yang menyapa tadi. Kemudian melihat suaminya yang tersenyum mengangguk kepadaku di seberang kursi kami, menggendong anak yang kira-kira berusia 5 tahun.

“Aduh, bu, maaf, bukannya saya tidak mau, cuman memang saya sengaja memilih tempat di bawah AC ini bu. Maaf ya,” jawabku agak keberatan. Bukannya apa-apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan masalah orang yang telat membeli tiket seperti pasangan ini.

Ibu itu cemberut. “Ya sudahlah pa, kita ngalah aja. Aku duduk di sampingnya mas ini aja.”

Whatever. aku kembali menutup mataku.

Perjalanan ini sesungguhnya bakal menyenangkan, kalau tidak harus mendengar rengekan anak 5 tahun yang sepertinya tidak pernah diam itu. Belum lagi suara ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya. Aku jengkel banget.

Hujan mulai turun. Airnya menetes membentuk alur di kaca jendelaku. Masih terjebak di Cawang. Sial.

Untung Cikampek tidak macet. Kendaraan mulai menderu, bertambah cepat. Kulihat tebaran warna hijau ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri jalan tol. Suara air hujan menderu keras sekali di atas atap. Orang-orang sudah mulai menampakkan kantuk, dan sepertinya suasana menjadi begitu sepi. Uh, begitu romantis. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk lenganku. Kalau saja ….

Cerita Seks – Aku memandang ke samping. Ibu itu kini sedang sibuk memberikan makan kepada anaknya. Si bapak sedang sibuk dengan PDAnya. Tipikal keluarga Jakarta, berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak. Tampaknya keluarga berada. Tapi ngapain naik bis ya? Ah, peduli amat.

Aku kembali menutup mataku. Hari berangsur gelap.

“Pengumuman, bapak ibu. Mohon maaf bahwa ada kerusakan teknis yang menyebabkan lampu tidur tidak dapat menyala,” kata kenek bus itu mengagetkan aku.

“huuuuu,” para penumpang menyahut serentak. Sip. aku paling tidak suka lampu tidur yang remang remang. Aku paling suka gelap. Tidurku pasti nyenyak malam ini. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.

————

Aku melirik jamku. Jam 9 malam. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Tidak terkecuali ibu dan anak di sampingku. Bus tadi baru saja berhenti di tempat makan. Orang-orang makan malam dan ke belakang. Pasti mereka kekenyangan, dan acara yang paling menyenangkan setelah makan adalah tidur. Hujan masih turun, rintik-rintik. Aku melanjutkan tidurku.

Tidak berapa lama aku terlelap, aku merasakan kaki anak di sebelahku menyentuh kakiku. Sialan. Itu berarti sepatu anak itu kena celanaku. Aku menggeser-geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan celanaku. Tentu saja dengan mata terpejam. Tidak disangka, kaki itu balas menggesek. Eee, kurang ajar. Aku segera membuka mataku untuk menegur orang tuanya. Aku terkejut.

Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Itu kaki orang dewasa. Kaki ibu itu. Si anak ternyata sudah tidak ada di pangkuan dia. Kemungkinan ada di pangkuan si bapak. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain yang akan terjadi. Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Dan ibu itu balas menggesek. Aku sedikit membuka mataku. Kilatan cahaya dari luar bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di sampingku. Matanya juga terpejam ternyata.

Tiba-tiba ibu itu menggeser sedikit tubuhnya. Ya, kearahku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Sisi samping kananku menempel pada bagian kiri tubuhnya. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Aku mulai terangsang.

Aku mencoba untuk lebih berani. Tubuhku aku condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku bergeser ke arahnya. Sehingga posisi saat itu, lenganku tepat di depan dadanya. Tubuh itu diam saja. Lenganku kemudian ku tekan sedikit ke belakang, sehingga aku bisa merasakan sesuatu yang begitu empuk. Ya, payudaranya. Payudaranya besar. Aku bisa merasakan volumenya ketika lenganku menggeseknya. Dan sangat empuk. Sikuku kemudian membuat gerakan melingkar di dadanya. Pelan sekali, sikuku bergerak. Aku tidak mau membuat ia berpikir macam-macam dan kemudian menamparku.

Tubuh itu diam saja. Kulirik matanya. masih terpejam. Tapi aku mendengar dia menghela napas. Jadi ia terangsang. Aku? sangat terangsang. Aku merasakan dadaku berdentum-dentum. Kepalaku berputar-putar karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Aku bisa mendengar degup jantungku di telingaku sendiri. Aku akan melakukan dosa. 4 hari sebelum pernikahanku. Sepanjang sejarah hidupku. Tapi perasaan itu, nafsu itu, benar-benar membuat aku tidak tahan …..

lenganku terdiam sebentar dari kegiatan menggesek dadanya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu mulai mengelus pahaku. ya, pahaku yang dibalut celana panjang kain warna coklat. Tangannya sangat perlahan mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas lutut. Aku gemetar. Sangat gemetar. Aku tidak tahan ……

Cerita Seks – Sekarang posisiku berubah. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Aku sudah memakai jaket tentu saja, karena aku tidur di bawah AC. tapi sweater tadi untuk maksud lain. Sweater tadi kemudian aku tutupkan di atas dadaku, dan kemudian tanganku kulipat. Apabila dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya kedinginan karena AC. Tapi bukan itu alasannya. Aku beringsut lagi mendekati tubuhnya. Tangan ibu itu masih mengelus pahaku. Kami berpandangan sebentar. Lucunya, setelah itu kami berdua kembali bersender pada tempat duduk kami dengan mata terpejam. Tanganku mulai beraksi. Tangan kiriku yang tadi dilipat mulai bergerak ke arah dadanya. Sangat pelan. Tangan itu mulai menyusuri bukit indah yang tertutup kain, mulai dari tepi. Aku sangat menghayati momen itu. Pelan-pelan kuelus bukit indah itu, dari tepi ke kanan. Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Aku tidak mau menyakiti bukit indah itu. Sungguh, ibu itu mempunyai dada yang sempurna. Besar, dan sangat kenyal. Aku merasakan bahwa dia memakai BH yang berenda. Aku membayangkan bentuknya. Mungkin warnanya hitam. Atau merah. Dan rendanya sedikit tembus pandang. Mungkin cupnya cuma setengah. Mungkin cupnya tidak bisa menahan volume payudara sebesar itu. Oooh, aku semakin terangsang.

Ibu itu mengenakan baju jeans terusan dengan bawahan rok dengan kancing dari dada sampai di lutut. Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Sangat merangsang. Aku melirik sedikit ke arah dia. Dia masih terus mengelus pahaku. Aku tidak sabar. Tangan kananku yang nganggur kemudian memimpin tangannya ke penisku yang sudah tegang. Aha, dia mengerti. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang tercetak jelas di dalam celanaku. OOoh, mantab.

“Besar …..,” desisnya. Matanya tetap terpejam. Mataku juga.

Aku melanjutkan kenakalanku. Kali ini, dua kancing tepat di depan dada besar itu aku buka. Dengan susah payah. Pernah membayangkan membuka kancing-kancing besar pada kain jeans? Yup, susah sekali. Akhirnya dia turun tangan. Tangannya kanannya membantuku membukanya.

Tanganku kemudian masuk pelahan ke dalam bajunya, untuk merasakan keindahan payudara di baliknya. Bayanganku memang menjadi kenyataan. BH setengah cukup yang terlalu kecil, dengan renda yang sangat merangsang. Aku suka sekali renda, terutama apabila renda itu ada di tempat yang tepat. BH dan celana dalam. Aku kembali mengelus dadanya. SEkarang aku sedikit meremasnya. Sensasinya benar-benar luar biasa. Dia mendesis. Kepalaku berdentum-dentum. Jantungku berdebar sangat keras.

“Buka,” bisikku lirih. Mungkin tidak terdengar. Tapi aku tidak mau mengambil resiko terdengar. Apalagi oleh suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya. Ternyata dia mendengar. Dia berhenti mengelus penisku, membungkukkan sedikit badannya, dan kemudian berusaha melepas kait BHnya di belakang. Agak lama dia membukanya. Selagi dia membuka BHnya, pelahan aku menarik ritsleting celanaku ke bawah. Pelaaan sekali. Setelah itu, aku memelorotkan celana dalamku. Tidak melorot sih sebenarnya. Cuman mengaitkan kolornya ke bagian bawah penisku. Tidak nyaman memang. Tapi sekarang penisku bisa bebas mengacung menunjuk langit. Menanti elusannya.

Sepertinya kait BHnya sudah lepas. Tangan dia sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang tadi lepas. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah tegak menjulang, keluar dari celana. Kemudian dia seperti terkejut dan kemudian menarik tangannya dan kemudian melipatnya di depan dada. Pura-pura tidur, sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah terbuka lebar.

Cerita Seks – Sial. ada orang mau ke toilet. dia berjalan melangkah dari depan. Untung aku ada sweater yang bisa menutupi si “burung” nakal. Aah, seorang wanita. Bakalan lama nih. Jantungku berdegup keras.

Lama sekali orang itu di toilet. Aku mulai tidak sabar. Penisku sudah mulai menyusut. ya iyalah, baru juga pemanasan. Kepotong deh. ….

Akhirnya wanita itu lewat juga di di samping kami. Uuuh, lega. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di bawah sweater, mencari “adikku” yang mulai tegang lagi. hmmm. Tangannya sungguh mulus, dan sentuhannya, benar-benar nikmat. Dia tahu betul cara merangsang penis dengan sentuhan. Sentuhan itu ringan, seperti melayang. Dia tidak meremas, atau menggosok terlalu keras. semuanya serba ringan dan melayang. Dan itu membuatku melayang.

Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Si bukit kembar yang kenyal. Dan tangan itu menemukan sasarannya. Dada itu benar-benar lembut. Mulus tak bercela. Aku meresapi setiap jengkal usapan tanganku di dadanya. Meremas pangkal dadanya. Memilin putingnya. Putingnya. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Dan keras. Sangat keras. Sperti penis kecil. Aku memilinnya. lagi. Dan dia mendesis.

“jangan keras-keras,” bisiknya sangat lirih. AKu mengerti. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Benar-benar nikmat.

Tapi tetap ada yang kurang. Kami berdua tidak terpuaskan. Penisku tetap tegang luar biasa. Dan rasanya mulai sakit sekarang. berdenyut-denyut ga karuan. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat terus-menerus. Dia mengerti hal itu.

“Ke bawah ….,” bisiknya sambil mengarahkan tanganku yang tadi ada di dadanya ke arah bawah. Aku langsung tanggap. Tanganku berubah posisi, mengelus pahanya yang tertutup kain jeans. Tidak berasa memang. Tapi dari gerakan tubuhnya aku tahu, dia sangat terangsang. Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Pelan-pelan aku naik sedikit ke atas, tepat di gundukan di bawah pusar itu. Dia menahan tanganku.

“Jangan … ”

Aku nekat.

“Jangan …” Ok. Aku turuti. Aku kembali mengelus pahanya. Kali ini tanganku lebih berani. Kupegang ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Dia tidak menolak. Aku kembali mengelus pahanya. Hhhm, sungguh mulus. Benar-benar mulus. Aku merasakan bulu-bulu halus di telapak tanganku. Dia terengah-engah. Tangannya sejak dari tadi berhenti mengelus penisku. Tak apa. lebih baik begitu daripada menyiksa “adikku” yang sudah tegang luar biasa.

Aku tiba-tiba menghentikan elusanku dan menarik tanganku. Kemudian memandang ke arah dia. Matanya bertanya. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.

“Aku mau itu,” bisikku mendekat di telinganya, sambil menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.

Dia menggeleng. Aku kemudian berpura-pura tidur. Memejamkan mata.

Lama sekali. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu. Tangannya menarik tanganku dan mengarahkannya ke tempat yang aku inginkan. Hehehehe, aku menang. Dia tidak tahan. Tanganku sudah berada tepat di atas gundukan itu. Dia membuka kancing bajunya tepat di area itu. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya. Dapat.

Jelas, ini sutra. Atau Satin? aku tidak peduli. bahan kain celana dalamnya halus sekali. aku merabanya. memastikan. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang kucari. Sesuatu itu sudah basah. Pasti basah, karena aku merasakannya dengan tanganku. Tanganku berhenti di situ. Merasakan bentuknya. Sedikit bergelombang. Aku merasakan lipatan vertikal. Bulu-bulu halus di sekitarnya. Cukup tebal. dan sangat basah. Aku tersenyum kembali. Penuh kemenangan. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Pelan, tapi sedikit menekan. Dia mendesis. Oh tidak. Dia melenguh. Tetap memejamkan matanya.

Aku makin berani. Celana itu aku pegang elastisnya. dan aku turunkan ke bawah. Dia memegang tanganku. Aku tetap berkeras. Dia menyerah.

Kembali jari tengahku mencari tempat tadi. Jari itu mencari sumber kenikmatan seorang wanita. Sebuah penis kecil yang sudah amat basah. Aku menggoyangnya pelan dengan jariku. Kemudian mengelusnya. Kemudian menekannya. Tubuhnya menegang.

Aku kembali mengelusnya. Pelan dan sedikit menekan. Pelan dan sedikit menekan. Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Jariku masuk lebih ke dalam. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat basah. Benar-benar basah. Rongga itu seperti tidak berujung. Kemudian jariku kugerakkan. ke dalam dan ke luar. Berulangkali.

Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam. Ada sesuatu yang mencengkeram. Dan rasa itu kembali membuatku terangsang. Aku terus menggerakkan jariku. Semakin cepat. Tiba-tiba jariku seperti ditumpahi cairan hangat. kental. Dia terengah-engah. Tubuhnya menegang. Kali ini cukup lama. Aku terus menggerakkan jariku. Dia kemudian menahan tanganku. Aku menurut. Aku memandangnya.

Matanya terpejam. Seperti menghayati sesuatu. Mungkin orgasme. Dadanya naik turun, terengah-engah seperti habis lari kencang. Kancing masih terbuka.

“Apa kau ..?”
“Ya … . Luar biasa …,” bisiknya, memandang kepadaku. Oooh, senyumnya manis sekali. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.

Dia memandang ke bawah tubuhku.
“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Ya iyalah. “adikku” tidur nyenyak sementara dia sendiri terpuaskan. Paling tidak dengan jariku.

“ga papa …”
Kami berdua terdiam. Menghayati momen-momen gila tadi. Kedua mata terpejam. Hawa dingin AC menyergap. Aku melirik jamku. 2 dinihari. Dan kemudian bus berhenti. cukup lama. Orang-orang sepertinya tidak peduli. tetap mereka tertidur nyenyak, padahal AC mati.

Aku memandang “partner”ku. Matanya terpejam. Bajunya sudah dikancingkan. Lengkap. Aku pun bergerak membetulkan celanaku.

“Jangan ….,” katanya sambil menahan tanganku yang hendak menarik ritsleting. Oh, dia ternyata melirikku. Ok. Aku menurut. Aku ingin tahu apa yang ingin dia lakukan. Aku hanya menutupnya kembali dengan sweater. Temperatur udara dalam bis mulai panas. Keringatku mulai menetes dari kening.

Akhirnya bus berjalan. AC mulai berhembus lagi. Sejuk. Aku memejamkan mata lagi.

“Buka matamu, awasin ….”

Aku tidak mengerti. aku membuka mataku. Tiba-tiba dia membungkuk.

Cerita Seks – Gilaaaa. Aku merasakan bibir mungilnya menyentuh kepala “adikku”. Ringan sekali. Aku mengerti maksudnya. Mengawasi sekeliling supaya tidak ada seseorang pun memergoki aksi gila ini. Penisku mulai hidup lagi. Gila mungkin, tapi aduuuh, memang nikmat. Kurasakan bibirnya mulai menciumi kepala penisku. Ohh, bibirnya mulai membuka dan memasukkan kepala penisku ke mulutnya. Penisku mulai masuk ke dalam mulutnya. Dan pelan-pelan mulut itu mulai menghisap. Adduh, sakit.

“Jangan keras-keras …,” aku berbisik sambil membelai rambutnya. Membelai rambutnya? iya, seperti layaknya pacar saja. Dia kembali melanjutkan kulumannya. Kali ini pelan-pelan. Naik turun. Naik turun. Nikmat tak terkira.

Tampaknya dia sudah sering melakukan ini. Mulutnya bagaikan sebuah mesin handal perangsang penis. Setelah selesai menghisap, dia berhenti sebentar, dan kemudian menjilat bagian bawah kepala penisku. Tidak cuma menjilat, lidahnya juga bergetar ketika bergerak menyusuri daging itu.

“Ooohhh ..,” kali ini aku terpaksa harus melenguh. Ini nikmat sekali. Dia tahu sekali kelemahan “adikku”. Bagian itu kemudian digigitnya dengan bibirnya. Siall, makin nikmat. Lagi-lagi digigitnya dengan bibirnya. Kalau begini terus, aku pasti tak tahan. Gelliiii.

Kemudian mulutnya kembali mengulum. Naik turun. Yang aku heran, penisku bisa masuk semua ke mulutnya. Wooa, sensasinya benar-benar luar biasa. Telaten sekali dia. Mulutnya kemudian berpindah ke …. bolaku. Menciumnya sebentar, kiri dan kanan, dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Ohhhh….. . Ketika mengulum bolaku, kurasakan lidahnya menari-nari di dalam mulutnya.

Aku yang ga telaten. Kurasakan nikmatku semakin memuncak. Tidak tahan lagiiiiiiiii …..

“Aku mau ….”

Mulutnya berpindah ke kepala penisku. Mengulumnya lagi. naik turun. Tangannya mengocok pangkal penisku. Pelan tapi erat.

“Aaaahhhhh …”

Ujung penisku berkedut. Sekali. Kurasakan aliran sperma ke mulutnya. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Selama itu pula mulutnya tetap mencengkeram kepala penisku. Aku ejakulasi. Di dalam mulut seorang ibu. Orang asing. Aku bahkan tidak tahu namanya.

Dia memandangku. Tatapan itu ….

“Makasih ….,” hanya itu yang terlontar dari mulutku. Dia bangkit, kemudian tersenyum kepadaku. Sekilas kulihat bekas sperma di pinggir bibirnya. Aku mengangkat tanganku, membersihkannya.

Kami berdua terpejam.

Pagi menjelang. Orang-orang sudah sibuk ngobrol. Isi bus kembali ramai. Aku? masih terlelap. Atau pura-pura? Setelah kejadian malam tadi, aku sama sekali tidak berani untuk menatap ibu di sampingku. Bahkan mengajak bicara pun tidak berani. Kurasa dia juga begitu. Kudengar dia sibuk dengan anaknya, sambil bicara dengan suaminya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan dia. Sepanjang jalan ku membuang muka, menatap pemandangan di luar jendela bus.

Pesta bujanganku kurasa.

Pukul 6.30. Orang-orang sudah mulai turun bus. Sudah sampai Sedayu. Berarti sebentar lagi masuk kota. Keluarga di sampingku bangkit. Oh, mereka mau turun.

“Mas, duluan, mas …,” kata suaminya ramah, ditimpali ibu itu. Aku terpaksa menoleh ke arah mereka. Baru kusadari sekarang. Ibu itu sangat manis. Aku merasa berterimakasih padanya.

“Oiya, monggo monggo,” sahutku.

Mereka turun dari bus. Bus semakin sepi mendekati terminal Giwangan. Ada secarik kertas kecil di bekas tempat duduk ibu tadi. Aku memungutnya. Penasaran. ternyata di kertas itu tertulis nama ibu dan no telepon y…wah ada kesempatan lagi ni he..he2..

Sabtu, 27 Juli 2013

CERITA SEKS TANTE VITA MENGAJARIKU BERCINTA



Cerita Seks | Aku Obat Awet Muda Tante Vita - Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Vita (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.
Tante Vita ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante Vita ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante Vita inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

Biasanya Tante Vita kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante Vita ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Vita ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih). Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante Vita malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Vita pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung. Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Vita mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Vita di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.
Lalu Tante Vita menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Vita, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Vitan ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Don temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Vita sambil mulai berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Vita kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante Vita boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Vita.
“Heh kenapa kamu Don kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Vita.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Vita.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.
Tante Vita cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat Don? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Vita.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Vita membiarkanku memegang-megang vaginanya.
“Sudah yah Don nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.
Lalu Tante Vita menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.
“Don, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Vita, kamu mau kan tolong jagain si ADon nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante Vita.
“Iya deh Kak aku jagain si ADon tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Vita.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Vita berdua saja di villa, Tante Vita baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Don? kok lemes gitu?” tanya Tante Vita sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.
Tante Vita begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yang mana Don atas apa yang bawah?” kelakar Tante Vita padaku.
Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Vita sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Vita, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar ADon saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Vita sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
“Don mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Vita.
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Vita yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante Vita hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Vita.
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Vita karena Tante Vita tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante Vita yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Vitapun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Vita, Tante Vita pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante Vita berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Vita lembab dan agak basah.
“Enak kan Don, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Vita.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Don?”
“Enggak Tante”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Vita.
“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak ADon megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Vita.
Tante Vita pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Vita basah entah kenapa.
“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Don sampai-sampai celana dalam Tante basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Vita dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Vita duduk di sampingku
“Don pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Vita dengan tangan yang agak gemetar, Tante Vita hanya ketawa kecil.
“Don, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Vita.
Dia mulai memegang penisku lagi, “Don Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Vita.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi ADon enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante Vita padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Vita yang di tumbuhi bulu halus.
“Don jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante ADon enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Don”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Vita di atas dan tanpa pikir panjang Tante Vita pun mulai mengulum penisku.
“Achh.. hgghhghh.. Tante”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante Vita tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Vita seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Vita sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Vita dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Vita pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Vita menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Don” kata Tante Vita.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Vita pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Vita pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Tante Vita mengeras, Tante Vita menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Vita. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante Vita, langsung Tante Vita kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Vita seperti menjilati es krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Don enak banget terus Don, yang itu isep jilatin Don” kata Tante Vita sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Vita tanpa sengaja tertelan olehku.
“Don masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”
Tante Vita pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Vita naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Vita pun mengejang hebat.
“Don Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Vita.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante Vita. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Vita mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante Vita sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante Vita tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.
“Don nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Vita padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Vitapun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.
“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante ADon kayanya mau kencing niih”
Tante Vita pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante Vita pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Vita menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante Vita yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Vita, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Vita di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante Vita. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante Vita, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Don kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si ADon sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Vita.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Vita.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Vita yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante Vita.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Vita bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Vita. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante Vita sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui bahwa suami Tante Vita ternyata menagalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Vita.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante Vita bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Vita yang nasibnya sama seperti Tante Vita, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.

GAIRAH SEKS: FLORA RIA DI KUBANG BUAYA – 5



Musim Tengkujuh sering mendatangkan banjir untuk negeri gajah ini. Bandar dan perkampungan berdekatan dengan sungai sering menghadapi masalah dengan banjir. Ada waktunya kecil dan ada waktunya besar. Namun dalam sejarah negeri Pahang tiada banjir yang kecil melainkan yang besar sahaja. Bila banjir berlaku banyaklah jalan ditutup kerana tidak boleh dilalui akibat air yang tinggi. Ramailah yang tergendala dan tersadai perjalanan mereka. Ada yang terpaksa tinggal di kawasan mereka tersangkut.

Nasib baiklah di kawasan Kubang Buaya banjir tidak melanda. Di lain-lain kawasan dalam Kuantan terjejas juga dengan banjir yang naik melebih 1.5 miter yang menenggelamkan jalan raya. Ramai penduduk yang dipindahkan ke sekolah-sekolah atau dewan orang ramai yang dijadikan pusat penempatan. Disitulah bantuan banjir disalur-kan. Mereka yang terpaksa pindah disediakan makanan, tempat tinggal, selimut dan sebagainya. Semua ini adalah hasil bantuan kerajaan.

Adalah beberapa buah sekolah ditutup waktu tersebut termasuklah sekolah N. Kebetulan tinggal menyewa di belakang rumah induk ialah Sara, seorang penuntut tingkatan Enam atas sekolah N. Sara menumpang rumah Abangnya yang menyewa rumah No.5 dibelakang rumah induk.

Sara memanglah senior N di sekolah. Orangnya pintar, cergas dan rajin. Sikapnya terbuka. Sederhana. Dari segi fisik kecil molek dalam 152 cm dan body figure 34 28 35. Hidung mancung, bibir halus dan muka bujur.

N syok juga kepada Sara ni walaupun dia dua tahun tua dari N. Sara nampak macam gadis nakal dengan matanya galak namun dia seorang gadis manis yang pintar. Bergiat dengan N dalam Persatuan bahasa Melayu. N adalah Presiden dan Sara adalah setiausaha. Jadi N dan Sara sering bersama dalam kerja-kerja berpersatuan. Dan kebetulan pula N dan Sara duduk dalam kawasan yang sama. Jadi mereka selalu berhubungan dan mesra. Ada waktunya macam kakak dengan adik. N suka keadaan begitu sebab dia tidak berakak kerana dia anak sulung.

“Aku numpang rumah abang aku, Bang Nizar (29 tahun). Nasib baik kakak ipar aku ok. Pendiam tak banyak cerita. Kak Tipah (26 tahun) orang kampung, jaga anaklah. Dua orang anak mereka, anak sedara aku. Seronok juga ada anak sedara dan aku boleh layan mereka,” kata Sara satu pagi kepada N sambil duduk di laman rumah sewa mereka.

Kak Tipah membawa setalam air dan goreng pisang. Dia tersenyum, seorang wanita muda bertubuh. Rambut ikal, matanya besar, payudara besar, punggung besar, pingang tak ramping. Gemuk juga tapi mantap dan padatlah. Tinggi dia baya Sara juga.

“Issh, akak susah-susah jer,” kata N bila Kak Tipah mempelawanya minum.”Ala goreng pisang je N,” jawab Kak Tipah kekeh kecil, “Makan ajelah.”"Mana budak-budak?” tanya N.”Tidor keletihan. Tadi sudah puas main,” jawab Kak Tipah.”Budak-budak camtulah,” sampuk Sara, “Akak marilah sama-sama kita minum.”"Haa, yelah..” jawab Kak Tipah lalu duduk sama. Kami bertiga di anjung rumah sewa mereka.”Untung Bakar tuan punya tanah ni. Luas kawasan tanah meka,” kata Kak Tipah, “Orang kaya tambah kaya.”Sara tersenyum, “Kita yang kena ubah nasib kita kak.”"Betul tu,” sampuk N mengunyah goreng pisang.”Kau ubah Sara. Jangan lupa kat Akak dan Abang Nizar kau sudah,” balas Kak Tipa ketawa sambil minum air teh yang disediakannya.”Mana leh lupa akak dan abang kita,” balas Sara sengih.”Kau berdua belajar sunguh-sunguh. Akak sudah kahwin. Sudah habis cerita. Ikut jelah suami ke mana dia nak bawa,” balas Kak Tipah lembut.”Yer,” jawab N pendek.”Sara nasib baik, akak dan abang Nizar bantu. Sara tak sia-siakan bantuan ini. Tu yang Sara fikir dan mahu buat, ubah nasib kita supaya senang dan lega sedikit,” kata Sara bersemangat.”Janji kau lepas dan masuk universiti, Sara. Itu harapan abang Nizar kau. Harapan akak juga. Tak payah bantu kami, ingat anak-anak sedara kau sudah,” balas Kak Tipah meniupkan semangat dan mengingatkan budi orang.

Pendekkan kisah..Geram jangan engkau geramGeram bermacam ragamKerana suka kerana marah

Janganlah kau geramBila kau melihat gadis yang cantikEngkau pun cuba menggodaTetapi jikalau dia tak layan

Tentulah engkau geramKalau ada orang sakitkan hatiTentulah kau jadi marahTetapi tak usah kau geram

Kau geramApalah gunanya kau geramLebih baik diam diam..O Nonok O nonokKenapa kau pangil hujan

Macamana aku tak panggil hujanKote nak makan akuO kote O koteKenapa kau nak makan nonok

Macamana aku tak makan nonokSebab itu makanan aku..

N ketawa sendirian mengubah senikata lagu orang tetapi itu sedap dinyanyi dan didengarkan. Di perlindungan itu.. Dekat dengan kali, tempat Bakar selalu mengongkek Makcik Janah.. Kali ini perlindungan itu dipergunakan leh N dengan Kak Tipah..Satu kawasan yang hanya diketahui oleh N dan Bakar. Kini N telah membawa Kak Tipah ke situ.. Kak Tipah bernafsu tinggi. Tak sangka wanita yang bertubuh sedemikian perlu disetubuhi dengan lama.

Kak Tipah mendesh, merintih, mengrang, meraung dan menjerit-jerit bila Kontol N masuk dan keluar didalam lubang cipapnya. Mula-mula memanglah sempit dan ketat, lama-kelamaan Kak Tipah dapat adapt dan adjust lubang vaginanya untuk menerima keperkasaan lelaki N di dalam keindahan wanitanya. Kini kontol N menembus dan merodok ke depan dan ke belakang ke dinding vagina Kak Tipah. Kak Tipah mngeluarkan air mazinya yang membalut basah kontol N.

“Huu.. Wah.. Wah.. Huu. Wah.. Huu.. Wahh.. Sedapp N.. Kote ko bagak.. Kote kau panjang.. N.. Adui.. Adui.. Ihh,” rintih Kak Tipah sambil mengangkat-angkat punggung bulatnya menemukan tujahan batang zakar N ke dalam lubang cipapnya. N mendiamkan diri sambil membiarkan Kak Tipah mengoyang pungungnya, lalu dinding vaginanya mula membalut, memicit dan mengemut batang zakar N.

Kak Tipah terus mengoyangkan pinggul N, dia mengeluh mengelinjang bila N mempompa kontolnya kuat ke lubang cipap Kak Tipah. Kak Tipah meraung, mengoingoi kesedapan, sambil dia memegang buntut N, menarik rapat agar N menekankan batang zakarnya dalam-dalam. Dia menghela nafas dan mula terasa sesak. Air sudah membanjiri lubang cipapnya. Sambil itu dia mengucup mulut N dan mereka bertukar lidah dan memper-mainkannya. Kak Tipah menjongket-jongketkan cipapnya menerima batang zakar N yang keras dan besar itu.

“Ooo.. Urghh.. Urghh.. Arghh.. Sedapp.. Gelii.. Ngiluu.. Ooo.. Naduhh maa, aduhh maa.. Sedapp.. Arghh..” jerit Kak Tipah di kesun-yian kebun itu.

N meneruskan pompaannya laju dan kuat rapat ke lubang puki Kak Tipah. Lubang puki Kak Tipah yang banyak mengeluarkan air dan melicinkan permainan. Sambil N tetap meramas payudara Kak Tipah yang besar meemnuhi tubuhnya. Mengisap puting cokelatnya. N menumpang ke dua belah tangannya, Kak Tipah memegang bahu N, N menekan dan menujah kontolnya dengan kuat dan laju. Kak Tipah mengikut rentak N.

“Wauu.. Sedap N.. Gelii..,” desah Kak Tipah yang kuyu matanya, hilang mata hitamnya.. N menarik batang kontolnya, kemudian menjilat kelentit, menghisap air jus dilubang cipap Kak Tipah, Kak Tipah sesak nafas, dia mengeruh kasar. Kakinya yang diangkat kedua belah mengelinjang-linjang.

Pantas N merodok semula batang zakarnya ke dalam lubang puki Kak Tipah. Dia mula mempompa batangnya yang besar dan panjang, Kak Tipah mengerang kuat, menjerit-jerit dan merintih-rintih kesedapan.

“Nnn.. Akak nakkuarr.. Sedap.. O.. Sedap.. Kuarr.. Uuu.. Kuarr.. Ooohh,” jeritan Kak Tipah melangsing dan nafasnya bagaikan kerbau disembelih.

Kini kakinya sudah ke lantai tanah. Tidak upaya diangkat ke atas. Dia mendesah dan mengeluh nikmat walaupun basah berpeluh dan keletihan dikongkek dan mengiongkek dengan N. Kak Tipah memeluk N sambil mencium dan mengucup dada, muka dan bibir N. Mereka berkucupan lama dan puas.

“Sedap N.. Ko bijak main. Kote ko besar kerass, iee, sedappnya,” elus Kak Tipah yang masih mengemut batang zakar N dalam lubang pukinya.N meneruskan pompaannya kuat-kuat dan laju-laju. “Ooo kakk.. Kuarr,” Lalu N mengeluarkan spermanya ke dalam lubang puki Kak Tipah. Kak Tipah terasa fana. N mengeruh kuat.”Eee.. Lama ko henjut N.. Sedapp.. Akak puas sungguh,” balas Kak Tipah mengoyangkan pinggulnya menrima sperma sayang N.”Sedap kak. Tima kasih,” balas N sambil menyonyot puting Kak Tipah dan memainkan lidahnya. Kak Tipah mengelus semula.”Pandai ko main, mana belajar nie? Rasa cam berpengalaman?” tanya Kak Tipah yang mengelap cipapnya dengan tualanya. Dia memegang kontol N ang masih berdenyut lalu dilapnya juga.

N senyum tapi pura-pura buat tak tahu. Mereka berpelukan dan berkucupan.

“Akak suka ko, bila ada peluang kitam ain lagi ya, sedapp N,” Kak Tipah mencubit pipi N. N senyum puas.”Apa sebab akak nak main dengan N?” tanya N selamba.”Main dengan Bang Nizar puas enggak, tapi hari tu nampak bentuk kote kau dari depan seluar, nampak terbonjol, naik syahwat akak. Tu yang nak cuba,” kata Kak Tipah terkekeh, “Ko punya lagi bagus. Besar, panjang keras. Sedap masuk dalam cipap akak”

Kak Tipah mahu N menyetubuhinya lagi, “Sok kat sini enggak N. Sok kita buat lagi. Akak puas sangat. Jangan lupa ye,” Kak Tipah mengingatkan sebaik sahaja mereka berpisah petang itu.

N tersenyum senang.

Waktu: Satu pagi Sabtu.. Lokasi: Bilik N, rumah Bakar. Suasana: Hujan lebat mencurah-curah dan langit muram, kilat memintas dan guruh bersabung..

Hasrat berbincang namu bila kilat memancar dan guruh berdentum, Sara memeluk N. Dia cukup takut dengan kilat tambah guruh yang meletup. Sara merasa cuak malah dia terkencing akibat kilat dan guruh itu. Dia terbasah di depan N. Sara rasa malu. Namun apakan daya, ketakutan itu bukan dibuat-buat. Dia memang fobia dengan kilat dan guruh. Bila kilat dia seperti mau mencari tempat untuk menyorok. Bila guruh dia menekap telinganya dan bergaris risau dan khuatir di wajahnya.

“N akak malu.. Akak takutt..” Sara memegang tangan N.”Jangan, nah ambil kain ni, tukar kat bilik mandi, jom saya temankan,” kata N memimpin Sara ke bilik mandi. Dia menyuruh Sara menukar sambil dia meunggu di depan pintu bilik mandi. Kejap lagi dengan wajah yang takut Sara keluar setelah bertukar kain.

“Biarkan kain akak kat dalam situ. Nanti kang nak balik amik,” arah N dan memimpin tangan Sara ke bilik.”Akak rehat dan rileks kat bilik ni. Saya mob bekas kencing akak tadi.” Sara tunduk malu lalu mengangguk.”Takut,” Pantas N meninggalkan Sara dan melakukan kerja mencuci tempat kencing Sara tadi.

Bersambung . . . . . . . .

CERITA SEKS KEPUASA MARINA



Cerita dewasa mesum terbaru ini menceritakan tentang gejolak nafsu birahi antara gadis seksi yang bersedia bugilpada saat berhubungan seks mesum. Perawan penuh gelora birahi ini menjadi incaran untuk memuaskan hasrat seks mesum pria yang masih memiliki gairah seks. Di mula dari gadis seksi ini sedang membersihkan rumahnya dengan pakaian yang seksi tersingkap sehingga pria belang itu semakin bernafsu. Cerita ini menjadi pengalaman pribadi cewek seksi yang direbut keperawanannya dari orang yang telah dianggapnya sebagai keluarga. Bagaimana cerita dewasa mesum ini, selengkapnya akan anda lihat.

Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.

Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.

Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. "Jangan menjerit!", Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. "Jangan takut, nanti kuberi uang", kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.

Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. "Pak, Pak jangan..!", Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.

Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. "Pak, mm.., mm.., ja..ngan sshh mmphh.., sshh..".

Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.

"Pak, Saya.., takuut", Suara Marina mendesah lembut.
"Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..", dengan napas memburu.
"Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..".
"aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur".

Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. "Kue apemmu hebat sekali", bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.

Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. "Sssh.., mmh.., ssh.., aakh..", Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, "Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!". Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.
"Bagaimana Mar?", tanya Daud.
"Enaakh.., Paak!", Jawab Marina.

Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.
"Kenapa Marina? Sakit?", tanya Daud di sela kesibukannya.
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.

"aakh.., uuggh.., Paakk..", Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.
"Sungguh nikmat air manimu Mar", bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.

"Paak, oukh.., akh.., aakh.., oough.., sakit Pak..", Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.
"Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!", bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.
"Eeegh.., yaa.., aakkhh.., oough..", jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.
"Tee.., russ.., Paak.., eeggh.., nikmat.., oough..!", erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, "Ouughh.., sa.., saya.., mmaau.., keluar.., Paak..".
"Tahan.., sebentar.., sayang.., oouggh..".

Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. "aaGhh..", jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, "Eeegghh.., Ooouugh..". "Creet.., creet.., creet..". Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.


Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.

Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

"Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?", tanya Om Jalil memulai pembicaraan.
"Belum Om", jawab Ria dengan malu-malu.
"Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?", tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.
"Merasakan apa, Om?", tanya Ria berpura-pura tak mengerti.
"Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu", jawab Om Jalil dengan terus terang.
"Saya, saya baru merasakannya sekali Om", jawab Ria sambil menunduk.
"Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?", Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

"Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?", mengalihkan pertanyaanya pada Marina.
"Dua kali, Om", jawabnya singkat.
"Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman". Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.
"Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian", sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.
"Bagaimana caranya Om?".
"Dengan mencobanya langsung", jawabnya tegas.
"Mencoba langsung, di mana Om?".
"Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur".
"Tetapi..".
"Tenang saja biar Om yang mengaturnya", potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.

Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. "mmhh..", desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.

Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang merosot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. "Pindahlah kamu ke bangku itu!" perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.

Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. "Ssshh.., aahh..", desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.

Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, "Blueess..". Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.
"Ouugh.., eeghh.., te..ruus.., oom.., jaa..ngan.., berhenti.", desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., "Aah.., ahh.., esst.., esst..", desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.
"Ouugh.., eesstt.., eengh.., aakh.., aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi.., om..", erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.
"Tung..guu.., sayang.., aakku.., juuggaa.., mmau.., ngecret..!", ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.
"aakuu.., kee..keeluar.., Ooom..".
"Akuu.., juuggaa.., aaghh..", dan, "Creet.., creet.., crett.", tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria.

Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.

Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.
"Kau menginginkannya?".
"I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu", jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.
"Ooouugh.., Ooomm.., lakukanlah.., Oom.., aa.., aku.., dah ti..daak.., taahhan.., lagi..!".

Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, "Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku", suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, "Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!", ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, "Kini genggamlah burungku!". Marina menggenggam penis Om Jalil. "Arahkan ke lubang memekmu!", Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. "Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!".

Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga.., "Sleep..", Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, "Oough..". Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, "Yaakh.., begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!", Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.
"Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!".
"Eest.., baikh.., Om..", jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.

"Eeeghh.., niikhmat.., sekhali.., Om.."
"Yaakh.., memang.., nikhmat memekmu ini Mar.., oouggh..".
"Ooomm.., hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om.." pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.

"Ooogh.., oough.., akhh.., ahh..", desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, "Eeest.., Ooough.., lebihh.., ceepat lagi.., Sayaang.., aku maau keeluaar..!".
"Yaakhh.., aku.., juga..,. sudahh.., tidak.., taahaan.., laagi.., Ooomm".
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, "Ooough.., Akuu.., keluaar.., sayang.."
"Akhuu.., aakhh..".
"Creet.., creet.., creett..", Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.

Minggu, 14 Juli 2013

Cerita Seks ABG - Diperkosa Ayah Tiri dan Adik Tiri




Kumpulan Cerita Sex Bergambar 2013 - Hamil Diperkosa Ayah Tiri dan Adik Tiri
Kisah asyik ngentotin paksa Teller bank swasta cantik dan seksi..Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. 





Kehidupan kami berjalan normal seperti layaknya keluarga bahagia. Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasional papan atas. Meskipun aku belum selesai kuliah, namun berkat penampilanku yang menarik dan keramah-tamahanku, aku bisa diterima di situ, sehingga aku pun berhak mengenakan pakaian seragam baju atas berwarna putih agak krem, dengan blazer merah yang sewarna dengan rokku yang ujungnya sedikit di atas lutut.


Sampai suatu saat, tiba-tiba ibuku terkena serangan jantung. Setelah diopname selama dua hari, ibuku wafat meninggalkan aku. Rasanya seperti langit runtuh menimpaku saat itu. Sejak itu, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah tiriku dan Rio.


Sepeninggal ibuku, sikap Rio dan ayahnya mulai berubah. Mereka berdua beberapa kali mulai bersikap kurang ajar terhadapku, terutama Rio. Bahkan suatu hari saat aku ketiduran di sofa karena kecapaian bekerja di kantor, tanpa kusadari ia memasukkan tangannya ke dalam rok yang kupakai dan meraba paha dan selangkanganku. Ketika aku terjaga dan memarahinya, Rio malah mengancamku. Kemudian ia bahkan melepaskan celana dalamku. Tetapi untung saja, setelah itu ia tidak berbuat lebih jauh. Ia hanya memandangi kewanitaanku yang belum banyak ditumbuhi bulu sambil menelan air liurnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku yang langsung saja merapikan pakaianku kembali. Selain itu, Rio sering kutangkap basah mengintip tubuhku yang bugil sedang mandi melalui lubang angin kamar mandi. Aku masih berlapang dada menerima segala perlakuan itu. Pada saat itu aku baru saja pulang kerja dari kantor. Ah, rasanya hari ini lelah sekali. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran. Entah karena apa, hari ini bank tempatku bekerja terkena rush. Ingin rasanya aku langsung mandi. Tetapi kulihat pintu kamar mandi tertutup dan sedang ada orang yang mandi di dalamnya. Kubatalkan niatku untuk mandi. Kupikir sambil menunggu kamar mandi kosong, lebih baik aku berbaring dulu melepaskan penat di kamar. Akhirnya setelah melepas sepatu dan menanggalkan blazer yang kukenakan, aku pun langsung membaringkan tubuhku tengkurap di atas kasur di kamar tidurnya. Ah, terasa nikmatnya tidur di kasur yang demikian empuknya. Tak terasa, karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi.


Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan, hampir tak menimbulkan suara. Orang itu lalu dengan mengendap-endap menghampiriku yang masih terlelap. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur. Tiba-tiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangannya meremas-remas belahan pantatku. Aku seketika itu juga bangun dan meronta-ronta sekuat tenaga. Namun orang itu lebih kuat, ia melepaskan rok yang kukenakan. Kemudian dengan secepat kilat, ia menyelipkan tangannya ke dalam celana dalamku. Dengan ganasnya, ia meremas-remas gumpalan pantatku yang montok. Aku semakin memberontak sewaktu tangan orang itu mulai mempermainkan bibir kewanitaanku dengan ahlinya. Sekali-sekali aku mendelik-delik saat jari telunjuknya dengan sengaja berulang kali menyentil-nyentil klitorisku.


“Aahh! Jangaann! Aaahh…!” aku berteriak-teriak keras ketika orang itu menyodokkan jari telunjuk dan jari tengahnya sekaligus ke dalam kewanitaanku yang masih sempit itu, setelah celana dalamku ditanggalkannya. Akan tetapi ia mengacuhkanku. Tanpa mempedulikan aku yang terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan, jari-jarinya terus-menerus merambahi lubang kenikmatanku itu, semakin lama semakin tinggi intensitasnya.


Aku bersyukur dalam hati waktu orang itu menghentikan perbuatan gilanya. Akan tetapi tampaknya itu tidak bertahan lama. Dengan hentakan kasar, orang itu membalikkan tubuhku sehingga tertelentang menghadapnya. Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya.


“Rio… Kamu…” Rio hanya menyeringai buas.
“Eh, Mer. Sekarang elu boleh berteriak-teriak sepuasnya, tidak ada lagi orang yang bakalan menolong elu. Apalagi si nenek tua itu sudah mampus!”
Astaga Rio menyebut ibuku, ibu tirinya sendiri, sebagai nenek tua. Keparat.


“Rio! Jangan, Rio! Jangan lakukan ini! Gue kan kakak elu sendiri! Jangan!”
“Kakak? Denger, Mer. Gue tidak pernah nganggap elu kakak gue. Siapa suruh elu jadi kakak gue. Yang gue tau cuma papa gue kawin sama nenek tua, mama elu!”
“Rio!”
“Elu kan cewek, Mer. Papa udah ngebiayain elu hidup dan kuliah. Kan tidak ada salahnya gue sebagai anaknya ngewakilin dia untuk meminta imbalan dari elu. Bales budi dong!”
“Iya, Rio. Tapi bukan begini caranya!”
“Heh, yang gue butuhin cuman tubuh molek elu, tidak mau yang lain. Gue tidak mau tau, elu mau kasih apa tidak!”
“Errgh…”


Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mulut Rio secepat kilat memagut mulutku. Dengan memaksa ia melumat bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas. Aku mencoba meronta-ronta melepaskan diri. Tapi cekalan tangan Rio jauh lebih kuat, membuatku tak berdaya. “Akh!” Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras. Tapi, “Plak!” Ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunang-kunang. Kugeleng-gelengkan kepalaku yang terasa seperti berputar-putar.


Tanpa mau membuang-buang waktu lagi, Rio mengeluarkan beberapa utas tali sepatu dari dalam saku celananya. Kemudian ia membentangkan kedua tanganku, dan mengikatnya masing-masing di ujung kiri dan kanan tempat tidur. Demikian juga kedua kakiku, tak luput diikatnya, sehingga tubuhku menjadi terpentang tak berdaya diikat di keempat arah. Oleh karena kencangnya ikatannya itu, tubuhku tertarik cukup kencang, membuat dadaku tambah tegak membusung. Melihat pemandangan yang indah ini membuat mata Rio tambah menyalang-nyalang bernafsu.


Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Satu persatu dibukanya kancing penutup blusku. Setelah kancing-kancing blusku terbuka semua, ditariknya blusku itu ke atas. Kemudian dengan sekali sentakan, ditariknya lepas tali pengikat BH-ku, sehingga buah dadaku yang membusung itu terhampar bebas di depannya.


“Wow! Elu punya toket bagus gini kok tidak bilang-bilang, Mer! Auum!” Rio langsung melahap buah dadaku yang ranum itu. Gelitikan-gelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian. Tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa. Semakin keras aku meronta-ronta tampaknya ikatan tanganku semakin kencang. Sakit sekali rasanya tanganku ini. Jadi aku hanya membiarkan buah dada dan puting susuku dilumat Rio sebebas yang ia suka. Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku menghadap langit-langit, memikirkan nasibku yang sial ini.


“Aaarrghh… Rio! Jangaannn..!” Lamunanku buyar ketika terasa sakit di selangkanganku. Ternyata Rio mulai menghujamkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Tambah lama bertambah cepat, membuat tubuhku tersentak-sentak ke atas. Melihat aku yang sudah tergeletak pasrah, memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi pada Rio. Dengan sekuat tenaga ia menambah dorongan kemaluannya masuk-keluar dalam kewanitaanku. Membuatku meronta-ronta tak karuan.


“Urrgh…” Akhirnya Rio sudah tidak dapat menahan lagi gejolak nafsu di dalam tubuhnya. Kemaluannya menyemprotkan cairan-cairan putih kental di dalam kewanitaanku. Sebagian berceceran di atas sprei sewaktu ia mengeluarkan kemaluannya, bercampur dengan darah yang mengalir dari dalam kewanitaanku, menandakan selaput daraku sudah robek olehnya. Karena kelelahan, tubuh Rio langsung tergolek di samping tubuhku yang bermandikan keringat dengan nafas terengah-engah.


“Braak!” Aku dan Rio terkejut mendengar pintu kamar terbuka ditendang cukup keras. Lega hatiku melihat siapa yang melakukannya.
“Papa!”
“Rio! Apa-apa sih kamu ini?! Cepat kamu bebaskan Merry!”
Ah, akhirnya neraka jahanam ini berakhir juga, pikirku. Rio mematuhi perintah ayahnya. Segera dibukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Aku bangkit dan segera berlari menghambur ke arah ayah tiriku.
“Sudahlah, Mer. Maafin Rio ya. Itu kan sudah terjadi”, kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.
“Tapi, Pa. Gimana nasib Meriska? Gimana, Pa? Aaahh… Papaa!” tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah dikeluarkannya dari dalam celananya ke dalam kewanitaanku.


“Aaahh… Papaa… Jangaaan!” Aku meronta-ronta keras. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Ayah tiriku semakin ganas menyodok-nyodokkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Ah! Ayah dan anak sama saja, pikirku, begitu teganya mereka menyetubuhi anak dan kakak tiri mereka sendiri.


Aku menjerit panjang kesakitan sewaktu Rio yang sudah bangkit dari tempat tidur memasukkan kemaluannya ke dalam lubang anusku. Aku merasakan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi. Ayah dan kakak tiriku itu sama-sama menghunjam tubuhku yang tak berdaya dari kedua arah, depan dan belakang. Akibat kelelahan bercampur dengan kesakitan yang tak terhingga akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi, tak sadarkan diri. Aku sudah tidak ingat lagi apakah Rio dan ayahnya masih mengagahiku atau tidak setelah itu.


Beberapa bulan telah berlalu. Aku merasa mual dan berkali-kali muntah di kamar mandi. Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter. Ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hasil diagnosa dokter ini bagaikan gada raksasa yang menghantam wajahku. Aku mengandung? Kebingungan-kebingungan terus-menerus menyelimuti benakku. Aku tidak tahu secara pasti, siapa ayah dari anak yang sekarang ada di kandunganku ini. Ayah tiriku atau Rio. Hanya mereka berdua yang pernah menyetubuhiku. Aku bingung, apa status anak dalam kandunganku ini. Yang pasti ia adalah anakku. Lalu apakah ia juga sekaligus adikku alias anak ayah tiriku? Ataukah ia juga sekaligus keponakanku sebab ia adalah anak adik tiriku sendiri?